google.com, pub-7203015954420871, DIRECT, f08c47fec0942fa0
ANTALALAI .COM | ISLAMIC WEB PAGE | IN INDONESIA
quran hadits fiqih tajwid sejarah kisah doa sedekah artikel fadhilah buku





Setiap anak berkembang kemampuannya sesuai dengan usia. Karenanya dalam mendidik anak disesuaikan dengan usianya. Perlakuan orang tua dalam mendidik buah hatinya harus memperhatikan usia mereka. Khususnya terkait dengan pola komunikasi. Jug bahasa yang dipergunakan. Tujuannya tentu saja agar anak memahami pesan orang tua. Selanjutnya anak bisa bersikap tepat sesuai harapan.

Mendidika anak dimulai sejak dalam kandungan ibu. Pertama yang mesti diperhatikan para ayah adalah berilah ibu hamil makanan yang halal. Ini modal awal untuk mencetak anak yang shalih. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menegaskan bahwa daging yang tumbuh dari makanan haram lebih baik masuk neraka. Ini berarti makanan yang haram akan berpengaruh kepada perilaku orang yang mengkonsumsi makanan yang haram tersebut. Makanan tersebut akan menyentuh jiwa hingga membentuk perilaku yang menyimpang, lebih mudah melakukan maksiat, yang pada akhirnya akan menghantarkannya masuk ke dalam neraka. Kita sering melihat anak yang sulit diatur padahal orang tuanya telh mendidik dengan baik.

Sebagian orang keliru ketika menganggap bayi dalam kandungan tidak mungkin diajak berkomunikasi. Ini anggapan yagn salah. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menjelaskan bahwa janin sudah bis amendengar pada usia kehamilan 40 hari. Karena Allah sudah menciptakan anggota tubuh lengkap baginya. Termasuk pendengaran. Karenanya sudara apa yang ada di lingkungan bayi dalam kandungan sudah bisa mendengar. Termasuk perkataan ayah dan ibunya.

Di sinilah seorang ibu yang hamil harus bersabar. Setiap omelan, gerutuan, sumpah serapah ibu bisa didengar bayinya. Sikap manja kekanakan juga dirasakan bayi. Marah-marah tidak sabar, menipu, dusta dan ingkar janji pun sang bayi akan merasakan. Tentu saja ini pendidikan yagn sangat buruk untuk bayi. Tidak jarang kita temui bayi yang lahir dengan sifat cengen. Eski sudah dirawat dengan baik. Perutnya sudah kenyang, sudah dimandikan dan bersih badannya, tidak sakit, namun bahwaannya menangis terus. Sedikit-sedikit menangis. Rewel terus hingga menyusahkan ayah ibunya jika demikian adanya coba kita tanyakan pada sang ibu, bagaimana dulu sikapnya waktu hamil. Pesan apa yang telah disampaikannya pada sang buah hati.

Begitu juga dengan kebaikan yang dilakukan oleh sang ibu sewaktu mengandung. Shalat yang khusuk, shalat malam, doa-doa yang dipanjatkan ibu dengan tulus penuh harap kepada Allah, kalimat thayyibah yang keluar dari bibir mulia ibu, istighfar, tasbih, tahmid, tahlil, takbir yang selalu diucapkan oleh Ibu akan didengar dan diikuti oleh sang bayi dalam kandungan. Dengan usaha baik sang ibu akan berpengaruh positif terhadap perkembangan anak nantinya.

Pada tahapan ini, ibu perlu menyampaikan pesan kepada bayinya. Misalkan jika ibu akan mendirikan shalat ia mengatakan, “Anakku sayang, saat ini sudah masuk maghrib, mari kita shalat anakku sayang. Kita wudhu dulu yuk”. Kemudian ibu berwudhu dan shalat. Kemudian ketika hendak membaca Al-Qur’an ibu berkata sambil mengelus lembut perutnya, “Anakku sayang, kita baca al-Qur’an dulu yuk”, terus ibu membacanya. Ketika ibu akan mengkaji Islam dia berkata, “Anakku, Allah Swt memuliakan orang berilmu, marilah kita belajar”. Begitu seterusnya sehingga anak terbiasa beribadah. Terbiasa beramal shalih semenjak dalam rahim ibu.

Semakin tua usia kehamiln maka kemampuan bayi menjadi lebih baik. Biasanya jika disentuh sudah memberikan reaksi dengan gerakan-gerakan tertentu. Maka komunikasi ibu kepada bayinya bisa lebih intensif. Dengan mengajaknya beramal shalih, mendengar kebaikan, mendengarkan lantunan ayat suci al-Quran atau lagu-lagu perjuangan islam.


CINTA
MENIKAH
KELUARGA
SEJARAH
HARTA
Kehidupan


 Antalalai | Pendidikan sejak dalam kandungan