google.com, pub-7203015954420871, DIRECT, f08c47fec0942fa0
ANTALALAI .COM | ISLAMIC WEB PAGE | IN INDONESIA
quran hadits fiqih tajwid sejarah kisah doa sedekah artikel fadhilah buku





Ada seorang sahabat yang sepanjang hidupnya mengabdi kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dan bermalam di sisi beliau untuk memenuhi perintah jika Rasulullah mempunyai keperluan. Maka Rasulullah pun bertanya kepadanya “Apakah engkau tidak ingin menikah?” ia menjawab, “Wahai rasulullah, kami ini orang fakir dalam hal uang dan tidak memiliki apa-apa. Aku telah menghabiskan waktuku untuk mengabdi kepadamu.” Kemuian beliau terdiam, lalu mengulangi pertanyaan tersebut untuk kedua kalinya. Ia kembali menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang sama pula.

Setelah kejadian itu, sahabat tersebut berpikir dan berkata dalam hatinya, “Demi Allah, bagiku Rasulullah mengetahui apa yang baik bagi dunia dan akhiratku serta apa yang mendekatkanku kepada-Nya. Jika beliau mengatakan kepadaku untuk ketiga kalinya, maka aku laksanaan.” Kemudian Rasulullah bertanya kepadanya untuk ketiga kalinya, “Apakah engkau tidak ingin menikah?” Mka ia menjawab, “Wahai Rasulullah, nikahkanlah aku.”

Lalu beliau berkata, “Pergilah ke Bani Fulan dan katakan bahwa Rasulullah memerintahan kepada mereka untuk mengawihkan engkau dengan sala seorang pemudi mereka.”. Ia berkata, “Wahai rasuullah, akut tidak mempunyai apa-apa (harta sebagai mahar pernikahan).” Maka Rasulullah pun berkata kepada para sahabatna untuk mengupulkan emas sebanyak satu bawwah. Mereka pun mengumpulkan sesuai dengan apa yang diminta oleh beliau dan pergi dengannya ke kaum trsebut. Di samping itu, para sahabat juga menyediakan seekor kambing untuk resepsi pernikahannya (HR. Ahmad dengan sanad shahih).

Kebiasaan pada zaman dahulu – yang pernah berlaku di beberapa negra – dimana jika seorang pemuda hendak menikah, maka ia melakukan akad dan melaksanakan persa yang cukup sederhana dengan mendatangkan beberapa teman saudara dan tetangga. Kemudian ia akan menyambut mereka dengna duduk sambil memegang torbus (topi dari Turki) yang terbalik. Lalu para tamu yang datang memberikan sesutu yang bernilai sebagai hadiah (kado) bagi sang pengantin. Sang pengantin pun tidak memakai torbusnya yang penuh dengan hadiah itu. Disisi lain, pemuda itu menggunakan hadiah yang didapat tersebut untuk membayar mahar dan biaya resepsi pernikahannya.

sesungguhnya hal yang sangat menyedihkan adalah, apabila seorang pria ingin meminang seorang wanita, lalu Bapak dari wanita tersebut langsung meminta mas kawin yang bukan-bukan sebagai persiapan pesta yang mewah. Sang pria mengira tuntutan tersebut adalah sesuatu yang wajar dan harus dipenuhi, dengan dalih bahwa bukankah seorang isri membutuhkan perhiasan, pakaian, rumah mewah yang memilik ruang makan, ruang tamu ruang tidur, lemari es, kipas angin dan permadani, bahkan mobil. Itu semua lebih diutamakan daripada untuk biaya perayaan akad dan resepsi perkawinan

coba kita ingat kembali bagaimana mahar yang pernah diterima oleh putri Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, hendaknya menjadi panutan dari umat Islam dan gambaran persiapan dari resepsi perkawinan putri beliau dengan segala perabotannya. Dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Ketika Ali Radhiyallahu’anhu menikahi Fathimah, Rasulullah berkata kepadanya, “Berikanlah ia sesuatu sebagai mahar.” Ali menjawab, “Aku tidak mempunyai apa-apa.” Maka Rasulullah pun bertanya. “Dimanakah baju perangmu yang terbuat dari besi itu? Berikanah kepadanya sebagai mahar.”


CINTA
MENIKAH
KELUARGA
SEJARAH
HARTA
Kehidupan


 Antalalai | Syariat Menikah