ANTALALAI .COM | ISLAMIC WEB PAGE | IN INDONESIA
quran hadits fiqih tajwid sejarah kisah doa sedekah artikel fadhilah buku



Imam Ghazali ra. Mengatakan, ?Jika Anda bertanya, apa faedah doas ementara takdir tidak bisa dirubah? Maka ketahuilah bahwa diantara takdir itu ialah menolak bala dengan doa. Maka doa merupakan alat untuk menolak bala dan mendapatkan rahmat. Sebagaimana perisai merupakan fasilitas untuk mengkis anak panah, dan air sebagai sebab tumbuhnya tetumbuhan dari tanah.

Sebagaimana perisai dapat menangkis anak panah, demikian pula doa menjadi perisai yang akan menangkal bala.?

Ibnu Qayim ra. Berkata, ?Doa adalah obat yang paling mujarab. Doa merupakan lawan bala. Ia menolak dan menyembuhkannya, mencegah turunnya bala dan menghilangkannya, atau memperingannnya ketika turun. Doa merupakan senjata bagi orang mukmin.

Doa memiliki tiga tingkatan terhadap bala:

1. Doa lebh kuat dari bala sehingga dapat menghalaunya.

2. Doa lebih lemah dari bala sehingga bala dapat mengalahkannya dan akan menimpa pada hamba, tetapi doa sudah meringankannya meskipun lemah.

3. Keduanya saling beradu dan salah satunya mengalahkan yang lain serta menimpa pada diri pemiliknya.?

Doa merupakan pintu yang agung. Apabila Allah telah membukakannya untuk seorang hamba maka kebaikan-kebaikan akan selalu mengikutinya dan berkah akan turun padanya. Oleh karena itu, Nabi SAW merendahkan diri kepada Allah dengan banyak memohon supaya diberi rezeki berupa akhlak yang baik. Dalam doa iftitah, beliau memanjatkan :

????? ????? ????? ???????? ?? ???? ???????? ??? ???? ????? ??? ?????? ?? ???? ??? ????? ??? ???

Allahumma ihdini li ahsanil akhlak, la yahdin li ahsanikh illa anta, wasrif anni sayyiaha, la yashrifu anni sayyiaha illa anta

?Ya Allah, bimbinglah aku pada akhlak yang baik. Tidak ada yang membimbing pada (akhlak) yang terbaik ekcuali Engkau. Dan palingkanlah keburukannya dariku. Tidak ada yang bisa memalingkan keburukannya dariku kecuali Engkau? (HR. Muslim dari Ali bin Abi THalib ra)

Ali ra berkata, ?Cegahlah bala dengan doa?

Saudaraku, di antara perkara kehidupan di dunia ini ialah kepayahan, kesulitan, musibah, problematika, kecemasan, dan kegundahan. Apabila musibah dan kesulitan telah ditakdirkan menimpa manusia, maka manusia terbagi menjadi empat golongan. (Shuwar min Shabri As-Salaf As-Shalih, Muhammad Hamid Muhammad, hal. 5, cet. I 1421 H/2000 M, Dar Al-Iman, Iskandariyah)

1. Zalim. Mereka adalah orang yang tidak sabar dan marah bila ditimpa musibah

2. Sabar. Mereka adalah orang yang menjaga hatinya dari kemarahan terhadap apa yang telah ditakdirkan, menjaga lisan dari mengeluh, dan menjaga anggota badan mereka dari melakukan perbuatan orang-orang yang marah. Maka bagi mereka itu pahala yang tak terhitung.

3. Rida kepada Allah. Mereka adalah orang yang menyempurnakan tingkatan sabar. Hati mereka tenang menerima takdir Allah yang menyakitnya. Mereka juga rida dengan musibah tersebut. Mereka tidak berangan-angan agar musibah itu tidak menimpanya, bahkan mereka rida dengan apa yang Allah ridai untuknya. Karena meraka rida kepada Allah, maka Allah pun rida kepada mereka.

4. Syukur. Mereka adalah yang berada pada derajat tertinggi tingkatannya dan paling sempurna derajatnya. Maka mereka rida karena Allah dan rida dengan takdir Allah. Lebih dari itu, mereka bersyukur kepada Allah atas segala kesulitan sebagaimana mereka bersyukur kepada-Nya atas atas kenikmatan. Mereka juga memuji Allah atas musibah dan bahaya sebagaimana mereka memuji-Nya atas kesenangan dan kemudahan.

Orang yang bersyukur itulah orang-orang ashfiya (suci) dan abrar (baik). Mereka minoritas secara kuantitas tetapi mendapatkan penghargaan paling mulia di sisi Allah. Allah Ta?ala berfirman, ?Dan hanya sedikit di antara hamba-hamba-Ku yang bersyukur.? (Saba : 13)

Bersabar menghadapi musibah adalah barang dagangan milik shiddiqin (orang-orang yang jujur). Yang demikian itu tentu berat bagi jiwa, untuk itu Nabi bersabda :

????? ?? ?????? ?? ???? ??? ?? ????? ??????

As?aluka minal yaqin ma tuhawwinu ?alayya bihi mashaibad dunya ?Aku memohon kepada-Mu keyakinan yang bias meringkankan aku dalam menghadapi musibah-musibah dunia. (Hadis Hasan)

Kesabaran semacam ini pijakanya adalah keyakinan yang baik. Untuk itu, Allah memberikan sifat sabar ini khusus kepada para wali dan kekasih-Nya. Dia berfirman entang kekasih-Nya, Ayub ra, ?Sesungguhnya, Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar, Dialah sebagaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kada Rabb-nya)? (Shad : 44)

Bala dan ujian secara maknawi mengandung dua maksud :

Pertama, Ujian yagn tidak terbatas waktunya dan tidak diketahui hasilnya sebelumnya. Terhadap bala dan ujian itu menimpa hanya sesaat, satu hari, satu bulan, satu tahun, atau lebih dri itu. Saat ujian dating, orang tidak mengetahui sejauh mana kerugian atau permasalahan yan akan dihadapi atau kesulitan apa yang bakal ia jalani.

Kedua, Makna kedua ini yang lebih banyak relevansinya dalam memberikan pengertian bala dalam kontek maknawi. Maksudnya, bala itu dapat secara tiba-tiba tanpa pendahuluan. Oleh akrena itu, banyak mufasir dan ulama yang menyebut hal ini dengna berbagai macam lafal, diantaranya : karitsah, musibah, dan faji?ah.

Semoga Allah menyelamatkan kit asemua dari beratnya bala dan ujian dengan memberi kesabaran, rida dan kemampuan kepada kita untuk menggungnya sehingga kita memperoleh pahalanya, baik di dunia maupun di akhirat.

















 Antalalai | DOA FAEDAH DOA