quran hadits fiqih tajwid sejarah kisah




AMSOL, ANIS DAN HARBEN

Pada suatu hari di negeri Antrah Bantrah, ada seorang Raja yang sangat terkenal dengan kemampuan berdiplomasi yang luar biasa hebat sehingga kerajaannya semakin hari semakin luas. Sang Raja pun memberikan satu daerah yang cukup subur kepada salah satu Wazir/Menterinya. Sang Wazir pun menerima dengan senang hati. Sebelum Wazir tersebut pergi menuju pulau yang dimaksud, sang Raja pun menitipkan tiga orang kesayangannya untuk tinggal bersama Wazir dan Raja meminta Wazir agar memperhatikan kesejahteraan ketiga orang itu serta mengatakan bahwa jika Raja memanggil Wazir, maka Wazir harus datang dengan ketiga orang itu.

Wazir dan ketiga orang kesayangan Raja berangkat menuju pulau yang dimaksud. Satu dua minggu perjalanan pun telah ditempuh oleh mereka. Pilih kasih sudah mulai tampak dilakukan oleh Wazir mulai dalam perjalanan bahkan sampai di pulau. Wazir lebih perhatian terhadap Anis dan Harben. Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun tidak terasa telah dilalui oleh mereka. Sudah pasti, Anis dan Harben hidup dengan bergelimpang harta, hidup mereka terlihat bahagia ditunjukkan dengan badan yang segar dan berisi. Hal ini berbeda jauh dengan Amsol, ia kurus kering karena jarang makan dan hidup penuh dengan penderitaan.

Singkat cerita, sang Raja memanggil Wazir untuk melaporkan perkembangan pulau yang sudah dipimpinnya selama puluhan tahun. Wazir pun datang kepada Harben untuk menghadap sang Raja. Harben menolak mentah-mentah permintaan Wazir. Harben sudah merasa betah dan nyaman di pulau tersebut sehingga tidak mau kembali ke Raja yang telah memberikan kehidupan yang enak. Harben hanya mau menghantarkan Wazir sampai pintu rumahnya saja. Akhinya, Wazir pergi menuju kediaman Anis. Setelah disampaikan maksud dan tujuan kedatangan Wazir, Anis menolak untuk kembali ke Raja dan hanya mau menghantarkan Wazir sampai di dermaga saja.

Akhirnya, tidak ada pilihan lain. Wazir pun datang kepada Amsol. Dengan senang hati, Amsol mau mengantarkan Wazir sampai kerajaan. Namun, Amsol mengatakan bahwa dirinya sangat kurus kering dan tenaganya pun tidak sekuat orang lain. Amsol mengatakan bahwa dirinya tidak akan mampu melindungi Wazir jika nanti di lautan akan datang Badai yang besar. Wazir pun tidak mempermasalahkan hal tersebut karena Wazir hanya membutuhkan teman untuk sampai ke Raja karena Wazir sendiri sudah tua.

Singkat cerita, badai yang besar benar-benar datang dan sang Wazir dan Amsol pun tenggelam di lautan yang luas.

HIKMAH KEHIDUPAN

Cerita di atas hanyalah untuk mengantarkan kita semua memahami tiga macam titipan Allah (dalam cerita tersebut adalah Raja) yang diberikan kepada kita (yaitu Wazir). Dan titipan tersebut haruslah kita jaga dengan baik.

Pertama, Harben. Harben adalah harta benda. Harta benda yang Allah titipkan kepada kita tidak akan mampu mengantarkan kita kepada Allah SWT. saat meninggal nanti. Ia hanya akan tetap tinggal di rumah dunia kita dan tidak akan mengantarkan kita menghadap Allh SWt.

Kedua, Anis. Anis adalah Anak Istri. Ia hanya mampu menghantarkan kita sampai liang lahat. Ia tidak mampu menghantarkan kita mengahadap Allah SWt. setelah kita masuk ke dalam liang lahat, mereka akan pergi meninggalkan kita dan mereka kembali bergabung bersama Harben.

Ketiga, Amsol. Amshol adalah Amal Sholeh. Amshol lah yang akan menghantarkan kita menghadap Allah SWT. perhatian kita kepada harta benda dan anak istri yang berlebih tidak lah akan menguatkan argumentasi kita di hadapan Allah SWt.

Harben akan menjadi amal sholeh jika harta benda yang  miliki, kita gunakan di jalan Allah, kita keluarkan  zakatnya, sedekah, digunakan untuk menolong orang-orang yang kekurangan demi membantu mereka keluar dari kemiskinan.

Anis juga akan mampu menjadi amal sholeh jika anak istri mampu mendoakan kita ketika sudah di alam ya