quran hadits fiqih tajwid sejarah kisah doa sedekah artikel




Alkisah, di sebuah desa miskin ada satu sekolah dasar, hanya sedikit muridnya karena kebanyakan anak-anak di desa itu membantu ornag tuanya mencari nafkah. Suatu hari, satu-satunya guu yang ada di sekolah itu sedang memberik pelajaran mengarang. Setelah menjelaskan cara-cara mengarang cerita, si guru memberikan pekerjaan rumah, "Anak-anak, pekerjaan rumah hari ini adalah mengarang dengan judul cita-citaku. Besok, hasil karangan kalian dibaca di depan kelas satu per satu..."

Keesokan harinya, murid-murid maju ke depan kelas dan membacakan karangannnya masing-masing. Kebanyakan dari mereka bercita-cita menjadi guru, petani, atau pegawai pemerintah dll. Sang guru selalu manggut-manggut tanda setuju. Lalu, tiba giliran seorang murid yang paling muda usianya. Bajunya tambal sulam, tubuhnya kurus kecil, tapi suaranya sangat lantang. "Kalau besar nanti, aku ingin punya rumah besar di atas bukit, dengan pemandangan yang indah, berdampingan dengan pondok-pondok kecil di sekelilingnya untuk tempat peristirahatan. Berderet pohon cemara dan pohon-pohon yang rindang di antara rumah-rumah itu. Ada taman bunya tertata apik dengan beraneka bunya dan warna. Ada kebun buah dengan buah-buahan lezat yang bisa dipetik oleh pnghuni rumah dan penduduk di sekitarnya. Saya ingin jadi orang sukses dan bahagia bersama dengan keluarga besar dan para tamu yang datang di sana..."

Mendengar suara yang lantang dari murid itu, kontan seisi kelas tertawa bersamaan. "Dasar pemimpi...!" ejek murid yang lain. Mereka mencemooh cita-cita si murid kecil. Melihat kegaduan-kegaduhan itu si guru jadi marah-marah. Ia menganggap, biang kerok kegaduhan itu adalah si murid kecil. Si guru menegurnya, "Yang kamu tulis itu bukan cita-cita, tapi itu impian yang tidak mungkin terjadi. Kamu harus tulis ulang tentang cita-citamu yang sebenarnya." perintah sang guru.

"Guru, ini adlaah cita-citaku yang sebenarnya. Ini bukan hanya mimpi, ini bisa menjadi kenyataan," murid kecil bersikeras.

"Heh.. kamu hidup di desa yang miskin, keluargamu jug akeluarga miskin. Bagaiaman kamu akan mewujudkan cita0cita seperti itu? Dasar pemimpi..! Buat karangan yagn masuk akal saja!" teriak si guru mulai tidak sabar.

"Aku tidak mau cita-cita yang lain. ini cita-citaku tidak ada yang lain.." simurid kecil ngotot.

"Besok kamu harus bawa karangna yang baru, Jika tidak kamu perbaiki karanganmu itu, kamu akan mendapat nilai jelek," si guru mulai mengancam. Namun keesokan harinya, si murid kecil ke sekolah tanpa membawa karangan baru. Walau diancam dan dipermalukan seperti itu, dia tetap pada cita-citanya semula. Karena sikapnya yang keras kepala dan tidak mau mengikuti perintah guru, akhirnya ia mendapat nilai paling jelek di kelas.

Tanpa terasa waktu terus berjalan. Tiga puluh tahun kemudian, si guru masih tetap mengajar di sekolah dasar itu. Suatu hari, ia mengajak murid-muridnya belajar sambil berwisata ke sebuah kebun buah di atas bukit yang sangat terkenal. Kebuah buah itu berada di desa tetangga, tidak seberapa jauh dari desa tempat mereka tinggal. Sesampai di kebun buah yang luas dan indah itu, si guru dan murid-muridnya berdecak kagum. Kebuah buah itu ternyata dilengkapi dengan sebuah taman bunga yang luas, dikelilingi pepohonan yang ridnang nan sejuk. Yang lebih mengagumkan, di dekatnya terdapat sebuah rumah besar bak istana. Tinggi menjulang, megah, dan sangat indah arsitekturnya.

Orang yang membangun istana ini pastilah orang yang sangat hebat.. Mengapa baru sekarang aku tahu ada tempat seindah ni.." gumam si guru terkagum-kagum. Tiba-tiba jawaban terdengar. "Bukan orang hebat yang membangun rumah ini... hanya seorang murid bandel y ang berani bermimpi punya cita-cita yang besar. Pasti, yang lebih hebat adalah guru yang dulu mendidik bocah bandel itu.. Mari masuk ke dalam rumah. Kita nikmati teh dan buah-buahan terbaik dari kebuh ini.." ujar si pemilik rumah itu dengan ramah.

Mendengar ucapan itu, mendadak si guru terpana dan teringat siapa yang berdiri di depannya. Dia adalah si murid kecil yang keras kepala yang mendapat nilai jelek waktu itu. Sekarang dia telah menjelma menjadi pengusaha yang sangat sukses. Matanya berkaca-kaca, merasa bersyukur sekaligus menahan mau karena 30 tahun yang lalu dirinya melecehkan cita-cita anak itu.

Pembaca yang budiman

Bila kita mau menyadari dan meneliti dengan cermat, sebenarnya banyak prestasi spektakuler dari abad sebelum masehi sampai abad milenium ini. Semuanya lahir dan dimulai dari sebuah embrio yaitu berani bermimpi.

Karena impianlah sebuah pesawat terbang tercipta. Karena impianlah kita bisa menikmati kecanggihan komputer. Karena impianlah kita bisa berkomunikasi dengan telepon tanpa kabel. Karena impian pula lah kehidupan kita bisa berubah menjadi lebih berkualitas.

Tentu, untuk merealisasikan setiap impian ini, kita membutuhkan kekuatan yang lain. Kekuatan itu harus ditumbuhkembangkan dari dalam diri kita sendiri, yaitu berani mencoba, berani berjuang, berani gagal, dan terakhir berani sukses.

Seringkali terjadi, penghambat kesuksesan seseorang bukan disebbakan oleh kekurangna-kekurangan yang dimilikinya. Tetapi lebih karena tidak adanya cita-cita yang diyakini dengan kuat dan diperjuangkan dengan sikap pantang menyerah!

(Dikutip dari 16 Wisdom & Success, Classical Motivation Stories 2 Andrie Wongso, Menggantungkan hidup dari belas kasihan dan bantuan orang lain adalah sikap hidp yang salah dan fatal. Jakarta : AW Publishing) cetakan 4: Mei 2006, halaman 1 - 4)













Antalalai | Kisah Berani Bermimpi