ANTALALAI .COM | ISLAMIC WEB PAGE | IN INDONESIA
quran hadits fiqih tajwid sejarah kisah doa sedekah artikel fadhilah buku




Namanya Khatim bin Alwan. Ia adalah seorang ulama besar ternama di Khurasan. Ia memiliki murid sangat banyak. Ilmunya sangat tinggi sehingga ia sangat disegani. Tetapi, di tengah masyarakat, ia memperoleh julukan al Azham atau si tuli. Anehnya, julukan yang biasanya untuk merendahkan itu, buat Khatim bin Alwan justru merupakan gelar kehormatan yang mengabadikan akhlak terpujinya sehingga ia dihargai oleh umat manusia sepanjang masa.

Gelar buru namun terhormat itu didapatkan oleh Beliau ketika pada suatu saat seorang gadis cantik keturunan bangsawan datang ke tempat ia biasa memberikan pelajaran yang juga merupakan tempat penyimpanan ratusan kitab-kitabnya. Gadis itu bermaksud menanyakan suatu masalah yang dibutuhkan jawabannya dengan segera.

Ketika sudah dipersilahkan masuk, tiba-tiba gadis itu terlepas kentutnya, walaupun pelan tapi terdengar nyaring. Imam Khatim terkejut. Baru sekali ini mendengar orang kentut di mukanya, apalagi seorang gadis. Si gadis, begitu mendengar kentutnya sendiri, betatapun pelan suaranya, mendadak merah padam wajahnya lantaran malu sekali. Apalagi yang dihadapinya seorang ulama besar yang dihormati oleh segenap lapisan masyarakat, termasuk raja dan pembesar kerajaan.

Namun, alangkah leganya gadis itu tatkala Imam Khatim bertanya dengan suara keras. “Coba ulangi, apa keperluanmu?”

Dengan lantang gadis itu menanyakan suatu masalah yang sedang dialaminya. Sudah keras sekali suaranya. Imam Khatim sebenarnya bukan tidak mendengar. Bunyi jarum jatuh pun telinganya masih dapat menangkap. Tetapi Imam Khatim masih juga berteriak nyaring, “Lebih keras lagi suaramu. Aku tidak mendengar. Apa kamu tidak tahu, aku ini sejak seminggu yang lalu menjadi tuli, pekak, akibat demam panas?”.

Mendengar pengakuan Imam Khatim tersebut, sigadis makin bersinar wajahnya. Sebab ia berpikir, kalau suaranya yang sudah amat keras saja Imam Khatim tidak bisa mendengarnya, apalagi bunyi kentutnya yang halus sekali, passti Imam Khatim juga tidak mendengarnya.

Maka sejak itu Imam Khatim terpaksa bersandiwara pura-pura tuli selama si gading masih hidup dan tinggal di kota yagn sama. Itulah sebabnya ia tersohor dengan gelar kebesaran, al-Asham atau si tuli.












 Antalalai | Kisah DI BALIK JULUKAN SI TULI