quran hadits fiqih tajwid sejarah kisah doa sedekah artikel




Suatu hari, di tahun paceklik bergemuruhlah suara pewarta: ada kafilah dagang mendekati ibu Kota Islam. Kafilah yang dimaksud terdiri dari tujuh ratus unta pembawa gandum, kismis, kurma, dan pakaian. Kafilah itu adalah milik Abdurrahman bin Auf ra. Para pedagang Madinah pun berkumpul untuk bertransaksi dengan kafilah tersebut. Mereka berkata kepada ABdurrahman, "Apakah Anda mau menjual makanan, pakaian, dan unta ini kepada kami?"

"Ya," jawabhnya.

Mereka menawarhakn, "Kami akan memberikanmu (keuntungan) satu dirham dari setiap satu dirham." Maksudnya memberi keuntungan 100 persen.

"Ada penawaran yang lebih tinggi?"tanya Abdurrahman.

"Kami akan memberimu dua dirham dari setiap satu dirham," tawar mereka.

"Ada yang lebih tinggi lagi?" "Kami akan memberimu tiga dirham dari setiap satu dirham!" tawar mereka lagi.

"Ada yang memberi lebih dari itu?" tanyanya lagi. "Kami adalah pedagang di Madinah," kata mereka, "Siapakah yang memberimu keuntungan lebih?"

Abdurrahman menjawab, "Demi Zat yagn jiwaku di tangan-Nya, Allah dari atas tujuh langit telah menambahkan (keuntungan) bagiku. Allah berfirman, "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Al-Baqarah : 261) Sumber : http://antalalai.com/quran/perayat.php?ayat&nomorsurat=2&nomorayat=261

Allah memberiku lebih di atas tujuh ratus kali sampai tak terhingga, Aku persaksikan kepada kalian dan Aku persaksikan kepada Allah dan melaikat-Nya, semua (kafilah) itu untuk di jalan Allah. Tidak ada satu dirham atau dinar pun yang masuk padaku. Orang-orang pun bubar kemudian orang-orang fakir dan miskin membagi-bagi barang yang dibawa oleh kafilah itu.














Antalalai | Kisah Lelaki Pembeli Surga