quran hadits fiqih tajwid sejarah kisah




ASH-HABUL UKHDUD

Di sebuah istana terjadi perbincangan antara seorang raja dan penyihir tua yang merasa bahwa usianya akan segera berakhir. Penyihir tua itu sedang menanti detik-detik kematiannya. Rasa berkata, Apa yang harus dilakukan, wahai penyihir? Aku tidak punya cara untuk melakukan tipu daya tanpamu. Di negeri ini manusia menyembahku karena jasa sihirmu.”
penyihir menjawab, “Paduka, aku sudah berada di ujung usia, kesehatanku pun sudah melemah. Menurutku, engkau harus memilih seorang pemuda untuk ajarkan ilmu sihir kepadanya agar ia bisa menjadi tukang sihirmu. Jika aku mati, sihirku tidak akan mati dan orang-orang akan tetap menjadi budakmu.”

Raja menyetujui itu. Ia memerintahkan para pelayannya untuk memilih anak paling pintar di kerajaan untuk menjadi penyihir barunya. Mereka pun memilih Abdullah bin Tamir. Seorang anak paling cerdas di kota itu.

Abdullah berangkat ke rumah sang penyihir di hari pertama dengan penuh keceriaan dan kebahagiaan, karena ia telah mendapat karunia itu. Sekarang pakaiannya baru dan hartnya pun banyak. Dia kaan menjadi penyihir raja, tuhan yang ditakuti manusia. Ia juga akan menjadi roang yang paling terkenal di kerajaan itu setelah raja. Bahkan, orang yang terkaya setelah raja. Dia akan dapat mewujudkan semua yang dia inginkan. Pelajaran sihir pun kemudian dimulai.

Abdullah Belajar Ilmu Sihir

Perjalanan dari rumah Abdullah ke rumah penyihir cukup jauh. Terkadang ia harus duduk untuk beristirahat karena kelelahan menempun perjalanan ini. Abdullah memperhatikan bahwa setiap kali dirinya melewati sebuah gua kecil di perjalanan, ia mendengar suara seorang kakek menyeru, “Wahai Dzat Yang Hidup Kekal! Wahai Dzat yang terus menerus mengurus makhluk-Nya. Wahai Dzat yagn menciptakan bumi dan langit.”

Abdullah kecil tidak berani masuk ke dalam gua karena takut kepada penghuninya, yaitu seorang kakek. Tapi, gema dari ucapan itu terus terngiang di telingannya, “Wahai Dzat yang hidup kekal. Wahai Dzat yang terus menerus mengurus makhluk-Nya.

Abdullah sampai di rumah pengihir dan penyihir pun muai memberi pelajaran sihir kepdanya. Namun, penyihir mengetahi bahwa anak itu diusik oleh sesuatu. Penyihir bertanya, “Apa yang terjadi padamu, wahai penyihir kecil?”

“Tuan, hari ini aku mendengar beberapa kalimat yang mengusikku dari segala sesuatu.”

“Kalimat apa itu”

“Siapakah Dzat yang hidup kekal dan terus menerus mengurus makhluk-Nya? Siapa Dzat yang telah menciptakan langit dan bumi?”

Penyihir itu marah. Wajahnya memerah. Dia berkata, “Berhati-hatilah mengatakan perkataan itu. Kita semua adalah hamba bagi sang raja. Kamu sendiri adalah penyihir raja, maka pelajarilah sihir yang dapat membuat semua manusia menjadi pembantumu dan kamu menjadi orang terkaya di kerajaan ini, bahkan di seluruh dunia.”

Abdullah terdiam dan kembali mempelajari sihir lagi. Namun, kali ini ia mencermati bahwa sihir yang dipelajarinya tak lain hanyalah sulap dan tipuan mata belaka, hanya sebuah tipuan yang mengelabuhi pandangan mata, dan tidak nyata. Bahkan, apa yang diterimanya hanyalah halusinasi dan ilusi belaka.

Sementara itu, suara kakek itu terus terngianag di telinganya, “Wahai Dzat yang hidup kekal. Wahai Dzat yagn terus menerus mengurus makhluknya.”

Abdullah Dilanda Kegelisahan Hati

Menyembunyikan telur di legan baju sebelah kiri, kemudian mengeluarkannya dari lengan baju sebelah kanan. Menyemburkan api dari mulut, lalu memadamkannya. Dan ada pula sihir yang berupa mantera-mantera yang tidak ada manfaatnya sedikitpun. Itulah yang diajarkan sang penyihir raja kepada Abdullah.

Kebimbangna menyelimuti hati Abdullah. Ia merasa bahwa dirinya tak lebh dari seorang pelayan raja. Sedangkan raja, ia tak lebh dari manusia lemah yang tidak bisa memberikan manfaat atau mudharat kepada siapa pun. Bahkan, ia adalah orang yagn selalu butuh makanan saat lapar, air saat haus, dan obat ketika sakit. Sungguh, penduduk kerajaa telah tertipu dengan kebohongan yang besar.

Ketika Abdullah dalam perjalanan menuju rumah sang penyihir, tiba-tiba ia mendengar suara itu lagi, “Wahai Dzat yang hidup kekal. Wahai Dzat yang terus menerus menguru makhluk-Nya”

Pemuda itu memberanikan diri untuuk masuk ke dalam gua. Di dalam gua, ia melihat seorang kakek yang sedang berdoa sambil mengangkat kedua tangannya, “Wahai Dzat yagn hidup kekal. Wahai dzat yang terus menerus mengurus makhluk-Nya. Rabb langit dan bumi. Engkaulah Ra yang patut disembah, tidak ada tuhan selain engkau. Engkaulah Rab pemilik alam semesta. Tidak ada tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau dan Engkau Maha Tinggi. ‘Arsy-Mu di atas langit, wahai Dzat yang Maha Penyayang. Maka, ampunilah aku dan kasihanilah aku.”

Tanpa sadar air mata Abdullah menetes di kedua pipinya bak mutiara yang berjatuhan. Tanpa sadar, lidahny akeceplosan mengucapkan, “Aku beriman keada dzat yagn hidup kekal dan terus menerus mengurus makhluk-Nya.” Ketika itulah syaikh tersadar seraya bertanya, “Siapa kamu, anak kecil?”

“Aku Abdullah bin Tamir, penyihir kecil raja.”

“Bagaimana kamu bisa masuk ke sini?”

“Aku mendengarmu memanggil Rabbmu yang hidup kekal dan terus menerus mengurus makhluk-Nya, dan ucapanmu itu membuatku kagum.”

“Anakku, Allah itu Penciptaku, Penciptamu, dan Pencipta rajayang mengklaim dan mengaku sebagai tuhan selain Allah.”

Abdullah bertanya penasaran, “Allah? Tuhan yang Agung. Aku pernah mendengar kata-katamu itu. Tunjukkanlah kepadaku bagaimana cara agar aku dapat menyembah Allah.”

Kakek itu kemudian mengajari Abdullah bagaimana cara menyembah dan bertasbih kepada Allah, Rabb semesta alam. Maka menangislah mata si kecil yang kemudian berubah dewasa karena keimanannya, yang mengungguli orang-orang dewasa yang kafir terhadap Allah

Pendeta tua itu berpesan kepada Abdullah, “Wahai Abdullah, jangan kamu tunjukkan keberadaanku di sini kepada orang lain dan sembunyikanlah keimananmu dari mereka. Sebab, jika raja mengetahui keadaanmu, ia pasti akan membunuhku dan juga membunuhmu, dan keimanan di muka bumi ini pun akan lengyap.”

Abdullah menjawab, “Aku mematuhi apa yang diperintahkan oleh kakek yang telah menunjukkanku kepada Allah, Dzat Yang Maha Esa lagi Tunggal.” Abdullah kemudian pergi.

Bukti Benarnya Ajaran Rahib Tua

Abdullah tidak lagi peduli terhadap pelajaran sihir yang dia pelajari dari penyihir kerajaan. Sebab, ia tahu bahwa penyihir itu pendusta. Sesungguhnya, kedustaan kan segera erungkp di hadapan orang lain, sekalipun orang itu anak kecil atau fakir seperti diriya.

Sejak Abdullah beriman kepada Allah, yang erpenting dalam hidupny aadalah pergi ke gua tempat pendeta berada. Ia selalu mampir ke gua untuk mendengar tasbih berada. Ia selalu mampir ke gua untuk mengengr tasbih dan alunan suara pujiannya. Ia jug abelajar kepadany tentng tta car mendendangkan tasbih di waktu malam untuk mendekatkn diri kepada Allah. Oleh karenanya, Abdullh sering datang terlambat ke rumah penyihir.

Saat Abdullah pergi ke rumah sang penyihir, maka penyihir itu memukulnya karena terlambat. Dan kegika pulang ke rumah, maka keluarganya memukulnya karena terlambat pulang. Si pemuda saleh itu berada di antara dua hal yang sama-sama pahit.

Abdullah menceritakan permasalahannya kepada pendeta. Pendeta tua itu memberinya nasiha, “Apabila penyihir bertanya kepadamu, mengapa kamu terlambat, maka jawablah bahwa keluargaku menahanku. Jika keluargamu bertanya, maka jawablah bahwa penyihir menahanku.”

Jarak antara rumah penyihir dan ruah Abdullah cukup jauh. Sang penyihir percaya atas apa yang Abdullah katakan dan tidak menanyakan kepada keluarganya. Keluarga Abdullah juga percaya atas apa yang Abdullah katakan dan tidak menanyakan kepada sang penyihir. Dengan demikian, Abdullah terlepas dari kekejaman sang penyihir dan jug asiksaan keluarganya.

Suatu hari, ketika Abdullah melintasi jalan yang biasa ia lalui, ia melihat kerumunan manusia. Abdullah emndekat untuk memastikan apa yang terjadi. Setelah dekat, ia melihat seekor hewan besar yang melintang di tengah jalan. Tidak ada seorang pun yang bisa melompat atau melewatinya untuk melanjutkan perjalanan.

Meliht hal itu, Abdullah memungut sebutir kerikil dari tanah. Ia berbisik pelan, sekrang saatnya untuk membuktikan, apakah pendeta yang lebih Allah cintai atau penyihir. Dia kemudian berdoa, “Ya Allah, jika pendeta yang lebih Engkau cintai daripada penyihir, maka jauhkanlah hewan ini dari jalan.”

Abdullah melemparkan kerikil itu dan ternyata hewan besar itu pergi dan tidak menutupi jalan lagi.

Abdullah melanjutkan perjalanannya menuju pendeta, sedang keimanan telah memenuhi relung hatinya. Dia menceritakan kejadian yang menimpanya kepada sanga pendeta. Pendeta berkata kepadanya, “Anakku, sekarang kamu leih baik daripada aku dan Allah pasti akan memberi cobaan kepadamu. Jika kamu mendapat cobaan, janganlah kau tunjukkan keberadaanku kepada pihak yang menyiksamu.” Kedua orang itu kemudian larut dalam shalat yang panjang dan doa kepada Allah.

Sepupu Raja yang Beriman

Raja mempunyai saudara sepupu yang but asejak kecil. ia sangat sedih atas nasib yang dialaminya ia selalu mencari dokter yang bisa memgembalikan penglihatannya yang telah hilang, sehingga bisa melihat seperti manusia yang lain.

Para tabib telah didatangkan, tapi tidak seornag pun mampu mengembalikan penglihatannya. Meski si but aini memiliki harta melimpah, tapi harta itu tidak dapat membahagiakannya dna tidak pula dapat mengembalikan penglihatannya.

Suatu hari, seseorang datang kepadanya dan menyampaikan berita tentang seorang tabib itu dan penyakitnya sembuh. Sampai-sampai, mereka beranggapan bahwa tabi itu bis amenyembuhkan segala penyakit.

Mendengar berita itu, si buta langsung mempersiapkan berbagai macam hadiah dan harta. Ia berangkat menemui tabib yang pandai itu, yang mampu berbuat sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh tabib-tabib lain.

Sampailah si buta dan orang-orang yang bersamanya di rumah sang tabib. Mereka mendapati antrian pasien yang cukup panjang di depan pintu rumahny. Mereka meminta izin untuk menemui sang tabib. Mereka terkejut. Tabib itu adalah Abdullah bin Tabir, penyihir raja yang kini telah menjadi sosok yang lebih terkenal daripada semur orang, bahkan dari raja.

Si buta menawarkan harta dan hadiah kepada Abdullah agar ia bersedia mengembalikan penglihatannya. Namun, Abdullah berkata, “Aku tidak mengambil upah dan tidak butuh harta. Aku hanya ingin kamu beriman kepada Allah semaa.”

“Siapa itu Allah?” Tanya si buta.

Abdullah menjawab, “Allah adalah dzat yang akan menyembuhkanmu dari penyakitmu jika aku berdoa kepada-Nya untukmu.”

“Bagaimana dengan raja? Bukankkah dia itu tuhan?”

“Apakah raja dapat menyembuhkanmu? Dia hanya seorang hamba, sama seperti aku dan kamu, kita semua ini hamba Allah.”

Pemuda yang sekarang menjadi tabib itu berkata, “Janganlah kamu memberitahukan perihalku kepada raja, karena dia pasti akan membunuhku dan juga kamu.”

Si buta keluar dalam keadaan sehat dan dapat melihat. Dia jug atelah beriman kepada Allah setelah kufur kepada-Nya. Dia menyembunyikan keimanannya, sekalipun terhadap anak-anak dan istrinya.

Kekejaman Raja terhadap Orang-orang Beriman

Salah seorang pengawal datang ke istana sepupu raja yang penglihatannya telah dikembalikan Allah. Pengawal itu berkata, “Raja ingin bertemu denganmu.”

Dia berangkat bersama sang pengawal, tanpa memerlukan seorng pun yang menuntun jalannya dlaam menemui raja. Ketika dia telah bertemu raja, raja sangat terkejut melihat keadaannya dan berkata, “Selamat untuk sepupuku yang sudah bisa melihat kembai.”

“Segala puji bagi Allah atas hal itu.” Jawabnya.

Raja langsung marah dan berkata, “Allah. Apakah kamu memuji Allah di kerajaan dan di istanaku? Apa kamu beriman kepada Allah?”

“Ya. Aku beriman kepada Allah yang telah menyembuhkanku dan mengembalikan penglihatanku, wahai raja.”

“Apakah ada tuhan yang disembah di kerajaanku ini selain diriku.”

“Bahkan, semua orang adalah hamba di kerajaan Allah, wahai raja.”

Raja marah dan memanggil para pengawal. Mereka menyiksa sepupunya sampai ia menunjukkan kepada mereka keberadaan Abdullah. Mereka pun mendatangkan Abdullah dan menyiksanya, hingga Abdullah menunjukkan kepada mereka tempat keberadaan raja yang lalim. Raja mengikat ketiga orang itu dengan rantai besi.

Raja berkata, “Kufurlah kepada Allah! Jika tidak, aku akan membunuh kalian.”

Sepupu raja yang pernah buta itu menjawab, “Aku tidak akan pernah menyembah selain Allah, dan aku tidak akan menyekutukan-Nya dengna sesuatu pun.”

Para prajurit membunuh sepupu sang raja, dnegan cara menggergaji tubuhnya dengan sebuah gergaji hingga terbelah menjadi dua bagian. Mereka berkata kepada pendeta “Kufurlah kepada Allah. Jita tidak, kai akan melakukan apa yang telah kami lakukan kepada si buta itu.”

Pendeta tetap tegar di atas keimannya, hingga mereka membelah tubuhnya dengan gergaji menjadi dua bagian.

Sekarang tiba giliran Abdullah. Mereka berkata kepadanya, “Kufurlah kepada Allah! Jita tidak, kamu akan menjadi seperti mereka.”

Abdullah menjawab, “Allah adalah Rabbku dan aku tdak akan menyekutukan Allah dengan sesuatu pun.”

Mereka meletakkan gergaji di atas kepada Abdullah dan hendak membunuhnya. Namun, gergaji itu tumpul dan tidak mempan. Mereka pun mencoba membunuhnya dengan pedang, tapi Abdullah tak jug adapat dibunuh. Mereka mencoba membunuhnya dengan panah, anak panah, dan pisau. Tapi, mereka tetap tidak berhasil. Raja tertegun kebingungan di hadapan pemuda itu. Dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan.

Rakyat berbondong-bondong Beriman kepada Allah

“Ya Allah, hindarkanlah mereka dariku dnegan sesuatu yang Engkau kehendaki.”

Itu adalah doa si pemuda saat berada di puncak bukit bersama dua pengawal raja. Mereka hendak melemparkannya dari atas bukit supaya mati. Mereka melakukan ini setelah semua cara dan upaya untuk membunuhnya gagal.

Allah mengabulkan doa pemud beriman itu. Mendadak bukit berguncang. Para pengawal terjatuh dari ketinggian dan mati seketika itu juga. Sedang Abdullah, ia masih tetap hidup.

Abdullah kembali kepada raja untuk menyerunya kepada Allah. Raja bertambah berang dan memerintahkan para tentaranya untuk meletakkan anak itu di sebuah sampand an embawanya ke laut, kemudian dilemparkan di sana agar mati tenggelam. Di tengah gelombang yang dahsyat, suara Abdullah melengking memanggil Rabbnya, “Ya Allah, hindarkanlah mereka dariku dengan sesuatu yang Engkau kehendaki.”

Mendadak sampan itu terbalik. Abdullah selama dari tenggelam. Ia kembali ke hadapan raja dan berkata kepadanya, “Sesungguhnya, kamu tidak akan bisa membunuhku, kecuali jika kamu mau melakukan yang aku perintahkan kepadamu.”

“Apa yang kamu perintahkan kepadaku?”

“Kumpulkanlah semua orang di sebuah tanah lapang yang luas, kemudian ikatlah aku di atas batang pohon, lalu ambillah anak panah dari kantong anak panahku dan letakkanlah di busurnya, kemudian ucapkanlah, “Dengan menyebut nama Allah, tuhan anak ini.” Jika kamu melepaskan akan panah itu, niscaya kamu bisa membunuhku.”

Raja setuju dengan apa yang dikatakan oleh Abdullah agar dia dapat menghabisinya. Tak lama penduduk kerajaan berkumpul di sebuah dataran tinggi. Mereka melihat Abdullah terikat di sebuah pohon. Raja membawa kantong anak panah Abdullah, kemudian mengeluarkan satu anak panah darinya. Semua orang terdiam dan suara raja terdengar keras mengatakan, “Dengan menyebut nama Allah, tuhan anak ini.”

Tubuh Abdullah memang tergeletak tak bernyawa, tapi doa dan keimanannya tetap kekal. Raja kebingungan, karena semua orang di kerajaannya telah menjadi penyembah Allah, bukan penyembah dirinya seperti dahulu.

Dia memerintahkan untuk menggali parit yang besar. setelah itu, dia memerintahkan kepada para pengawal untuk menyalakan api. Api yang besar pun dinyalakan. Para pengawal kerajaan menyeret satu persatu orang-orang mukmin. Mereka menyeru kepada penduduk, “Kamu mau kufur kepada Allah atau kami lembarkan ke dalam parit berapi itu?”

Tak satu pun orang mukmin yang tersisa, kecuali mereka melemparkannya ke dalam parit berapi. Hingga yang tersisa hanya seorang wanita yang menggendong bayi di kedua tangannya. Mereka merampas bayi itu dari tanganya dan berkata, “Apakah kau akan kembali dari iman kepada Allah? Jika tidak, kami akan membakar bayi kecilmu ini.”

Sang itu menatap bayinya dengan sedih. Ia hampir mengatakan perkataan kufur. Namun, Allah berkendak lain. Bayi imut itu berbicara,, “Ibu, bersabarlah. Sesungguhnya, engkau berada dalam kebenaran yang nyata.”

Mendengar ucapan bayi kecilnya, sang ibu menolak untuk kembali kufur. Ia hanya ridha dengan keimanan. Maka, bayi kecil itu dilempar ke dalam parit, begitu juga dengan ibunya. Sunggh, siksa yang pedih pada hari kiamat kelak telah menanti raja dan bala tentarany

Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit. Yang dinyalakan dengan kayu bakar. Ketika mereka duduk di sekitarnya. sedang mereka menyaksikan ap ayang mereka perbuat terhadap orang-orang yagn beriman.

Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi maha Terpuji, yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha menyaksikan segala sesuatu.

Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-rang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubah Maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab yang membakar” (Al-Buruj: 4-10)







FIQIH

HADITS

KISAH

ARTIKEL



Antalalai | Ash-Habul Ukhdud