BULAN RAMADHAN

Bulan Ramadhan adalah bulan yang ada hanya pada Zaman Rasulullah SAW. Berarti, sebelum datang Rasulullah, belum ada bulan yang namanya Bulan Ramadhan. Lalu? apa nama bulan sebelum Bulan Ramadhan?

Berbicara tentang bulan Ramadhan, berarti kita berbicara salah satu ayat dalam al-Qur'an Surat al-Baqarah yang berbunyi : "Syahru ramadhaanal ladzi unzila fiihil qur'an, hudan linnaasi wabayyinatim minal huda wal furqann."

Ayat tersebut menjelaskan bahwasannya Bulan Ramadhan adalah bulan dimana al-Quran turun ke langit dunia tepatnya baitul atiq. Segeluntung al-Quran turun ke bumi yang kemudian secara berangsur-angsur akan disampaikan ke Rasulullah melalui Malaikat Jibril baik Jibril menyerupai orang tua, menaruhnya langsung ke dalam hati Rasulullah ataupun Malaikat Jibril datang langsung dengan wujud Malaikat itu sendiri.

Tampaknya, pada ayat tersebut Allah tidak akan menjelaskan tentang Bulan Ramadhan atau kewajiban melakukan puasa pada Bulan Ramadhan. Allah menjelaskan kepada kita bahwa Bulan Ramadhan adalah bulan yang luar biasa karena turunnya al-Quran, bukan karena umat Islam wajib menjalankan puasa pada bulan tersebut

Dari sini kita bisa ambil hikmah atau pelajaran dari ayat tersebut dalam aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya secara tersurat saja tentang al-Quran dan pengaruhnya terhadap Bulan Ramadhan. Al-Quran yang luarbiasa hebat akan berpengaruh kepada Ramadhan yaitu waktu dimana al-Quran turun. Tapi kita juga bisa merefleksikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Contohnya, hebatnya kedua orang tua atau kemuliaan kedua orang tua di masyarakat karena kehebatan anak yang lahir dari mereka. Anaknya yang berhasil atau sukses dalam kehidupan sehari-hari baik karena pendidikan, harta ataupun kedudukan tentu akan berpengaruh besar terhadap kedua orang tuanya. Maka, agar kita sebagai orang tua mendapatkan kemuliaan di dunia karena anak kita,maka kita harus menjadikan anak-anak kita anak-anak yang hebat, yang berhasil, sholeh, menjadi kebanggaan kita. Begitu juga sebaliknya, jika kita tidak berhasil atau tidak berusaha menjadikan anak-anak kita anak yang sholah/sholehan maka kita akan menanggung akibatnya. Hidup kita akan terpuruk. Jadi, berhati-hatilah dalam mendidik anak kita agar mereka menjadi generasi yang berhasil dan jadi kebanggaan kedua orang tuanya.